Selasa, 06 Mei 2014

Resensi film Tanah Surga... Katanya










Judul                 : Tanah Surga... Katanya
Sutradara          : Herwin Novianto
Produser           : Deddy Mizwar, Gatot Brajamusti
Produksi            : PT.Demigisela Citra Sinema & PT.Gato Brajamusti Films
Durasi               : 90 menit
Tayang Perdana : 11 Agustus 2012
Pemeran            : Aji Santosa, Fuad Idris, Ringgo Agus Rahman, Astri Nurdin,Ence
                            Bagus, Tissa Biani Azzahra, Norman Akyuwen

         Negara indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, tumbuhan dapat tumbuh dimana-mana sehingga masyarakat indonesia dapat menikmati hasil dari kekayaan alam yang berlimpah, namun sayangnya semua hal tersebut hanyalah sebuah angan-angan semata. bagi sebagian masyarak indonesia.

     Sudah menjadi pemandangan umum bila banyak warga negara Indonesia merantau dan bekerja di Malaysia, sebuah negara yang diklaim sebagai serumpun dan sebahasa. Sesuai dengan pepatah mengatakan rumput halaman tetangga lebih hijau dari rumput halaman sendiri maka banyak orang-orang Indonesia yang bekerja atau bahkan pindah dan menjadi warga negara di sana karna merasa tidak dapat mendapatkan kesejahteraan dinegara sendiri. Sebuah fenomena yang sering terdengar namun tiada pernah teratasi dan bahkan menjadi cita-cita tersendiri bagi sebagian orang untuk dapat bekerja dinegara yang bukan negara sendiri demi mendapatkan kesejahtraan dan harta yang berlimpah . Untuk itulah film ini sedikit menguak sisi kehidupan lain sebuah keluarga di sebuah desa kecil pada perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.

Film yang bergenre drama satire ini diproduseri oleh Deddy Mizwar dan Brajamusti yang akrab dipanggil Aa Gatot. Istilah satire mempunyai arti sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Mereka berdua juga tampil sebagai cameo yaitu menjadi seorang pejabat dan asistennya yang sedang berkunjung didesa. Herwin Novianto menyutradarai ini sebagai aksi keduanya setelah Jagad x code.

Sinopsis.
       Film ini menceritakan tentang seorang laki-laki tua yang bernama Hasyim (Fuad Idris) mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia Malaysia tahun 1965, yang tinggal disebuah desa perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia (Kalimantan Barat) bersama dengan dua cucunya yang bernama Zaman dan Salinah yang dititipkan oleh ayahnya yang bernama Haris (Ence Bagus) yang telah menduda, yang memilih untuk tinggal dan mencari pasangan hidup yang baru dan berwirausaha dinegara tetangga karena merasa hidupnya bisa lebih sejahterah dan berkecukupan dinegara tetangga daripada berdiam dan hidup miskin dinegara sendiri selama menjalani kehidupan didesa Hasyim selalu mengajarkan kepada kedua cucunya untuk selalu mencintai negara sendiri walaupun dengan keadaan pedesaan yang serba kurang dibanding dengan dengan negara tetangga (Malaysia).
          
          Pada suatu hari Haris (Ence Bagus) kembali ke indonesia untuk mengajak anaknya Zaman dan Salinah serta ayahnya Hasyim (Fuad Idris), untuk pindah ke Malaysia karna sudah merasa cukup sejahterah dinegara tetangga dibandingkan harus terus hidup kekuranga dipedasaan tanpa adanya perhatian pemerintah untuk mensejahterakan masyarakatnya ia merasa bahwa disana ia bisa menyekolahkan kedua anaknya lebih tinggi dan ayahnya bisa mendapatkan jaminan kesehatan yang memadai dibandingkan dinegara sendiri.

              Namun ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh ayahnya (Fuad Idris) karna merasa berkhianat kepada negara sendiri apabila ia pindah tempat tinggal dan mencari nafkah dinegara yang pernah berseteru dengan negara nya sendiri Indonesia, ia lebih memilih hidup miskin dan sakit-sakitan daripada harus pindah kenegara tetangga Malaysia.Namun satu anaknya Salinah memilih untuk ikut dengan ayahnya (Ence Bagus) untuk berpindah tempat kenegara tetangga karna ingin mendapatkan kehidupan yang lebih nyaman dan berkecukupan serta ingin melihat ibunya yang baru, sementara satu anaknya Zaman, memilih untuk tetap tinggal dengan kakeknya untuk merawat kakeknya yang sudah tua dan sakit-sakitan.

             Beberapa bulan kemudian datanglah seorang dokter yang disebuat  Dokter Intel (Ringgo Agus Rahman) dari kota untuk mengabdi dan  melayani masyarakat yang berada dupedesaan itu, ketika iya mulai datang ia merasa sangat heran setelah mengetahui bahwa mata uang yang berlaku dipedesaan itu adalah mata uang Ringgit(mata uang Negara Malaysia). ia kemudian bertemu dan mulai jatuh hati ketika bertemu dengan seorang gadis yang bernama Astuti (Astri Nurdin). Astuti yang juga datang beberapa bulan yang lalu untuk mengajar disebuah sekolah yang sudah hampir roboh dipedesaan itu, menjelaskan kepada Dokter Intel (Ringgo Agus Rahman) tentang keadaan pedesaan yang berada pada posisi perbatasan antara negara Indonesia dengan Malaysia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar